korannews.com – Hacker dengan identitas Bjorka membuat heboh warganet dengan segala tindakannya yang membocorkan beberapa data di Indonesia.

Salah satunya hacker Bjorka ungkap tentang dalang pembunuh aktivitas HAM Munir , hingga identitas pelaku disebar di Internet.

Melalui akun Twitter @bjorkanisme dengan berani Bjorka membagikan informasi tentang sosok pembunuh Munir , hingga menjadi sorotan netizen.

Diketahui Tragedi pembunuhan Munir masih jadi misteri hingga saat ini, bahkan organisasi yang didirikan olehnya Kontras, masih kerap melakukan aksi kamisan yang meminta agar kasus tersebut benar-benar diungkap hingga saat ini.

Lantas siapa sosok Munir dan seperti apa kisah kematian pejuang Hak Asasi Manusia ini?

Berikut Pikiran-Rakyat.com telah merangkum kisah kematian Munir , dikutip dari berbagai sumber.

Profil sang Aktivis

Munir memiliki nama lengkap Munir Said Thalib, lahir di Magelang, Jawa Timur pada 8 Desember 1965.

Selama bangku kuliah, Munir aktivis berorganisasi dan tergabung sebagai relawan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) cabang Surabaya selama dua tahun.

Munir merupakan seorang aktivis yang kerap menangani banyak kasus tentang pelanggaran HAM di masa orde baru.

Semasa hidupnya dia melakukan advokasi pada masyarakat kecil yang mendapatkan perlakuan tidak adil atau pelanggaran HAM. Sebagai contoh, Munir pernah tercatat sebagai salah seorang penasihat hukum dari tiga keluarga petani yang dibunuh oleh oknum TNI.

Dia menjadi pendamping hukum keluarga petani yang dihilangkan nyawanya di proyek Waduk Nipah Banyuates, Sampang.

Masih banyak kasus pelanggaran HAM lainnya yang ditangani oleh Munir , dan kebanyakan dari kalangan masyarakat kecil.

Demi memaksimalkan pembelaan terhadap orang yang mendapatkan tindakan pelanggaran HAM, pada 1998 Munir turut mendirikan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindakan Kekerasan (KontraS).

Selain itu, kegiatan organisasi Munir juga dikenal pernah menjabat sebagai wakil Direktur Imparsial, Suatu lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak dalam penegakan hukum dan penghormatan HAM di Indonesia.

Akhir Hayat

Meski melakukan pekerjaan mulia dengan melakukan pembelaan dan pendampingan hukum bagi masyarakat yang mendapatkan perlakuan tidak adil, khususnya dalam tindakan HAM.

Di usia yang terbilang masih muda, Munir harus lebih dulu menghadap Sang Mahakuasa dengan kematian misterius dan tragis.

Munir tewas dibunuh di udara saat dia berada di dalam pesawat, perjalanan dari Jakarta ke Amsterdam Belanda.

Diketahui perjalanan Munir saat itu yakni untuk melanjutkan S2 aspek hukum humaniter di Universitas Utrecht, Belanda.

Saat ingin memasuki pintu pesawat, Munir dikabarkan sempat bertemu dengan Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda biasa dipanggil Polly.

Tiga jam setelah pesawat lepas landas dari Singapura, awak kabin melaporkan kepada pilot bahwa seorang penumpang bernama Munir di kursi 40 menderita sakit.

Saat itu Munir sempat bolak balik ke toilet, dan Pilot meminta agar kondisi Munir terus dipantau, lalu dia dipindahkan duduk disebelah seorang penumpang yang kebetulan seorang dokter.

Sang dokter berusaha menolongnya namun dua jam sebelum pesawat mendarat, saat diperiksa Munir sudah menghembuskan nafas terakhirnya, diapun dinyatakan meninggal dunia pada 7 September 2004.

Saat dilakukan autopsi terhadap jenazah Munir , petugas menemukan zat racun senyawa arsenik dalam tubuhnya.

Jenazah aktivitas HAM itu kemudian dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Kota Batu. Hari kematian Munir pun dicanangkan sebagai hari Pembela HAM Indonesia oleh para aktivis HAM.***