korannews.com – Ekspor makanan dan minuman Indonesia masih berhasil cetak pertumbuhan. Meski ada tekanan efek domino pandemi Covid-19 di negara tujuan ekspor.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, ekspor makanan dan minuman Indonesia pada kuartal-II tahun 2022 cetak kenaikan 3,68% secara tahunan. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode sama tahun 2021 yang naik 2,95%.

“Meski terdampak pandemi Covid-19, industri makanan dan minuman masih menunjukkan ketahanannya. Ekspor pada Januari-Juni 2022 meningkat 9% jadi US$21,3 miliar dibandingkan periode sama tahun 2021 yang senilai US$19,5 miliar,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulis dikutip Senin (12/9/2022).

Makanan dan minuman, kata dia, menjadi subsektor dengan sumbangan terbesar bagi PDB Indonesia. Tercatat, pada kuartal-II tahun 2022 kontribusinya melonjak 38,38% terhadap PDB industri nonmigas.

Di sisi lain, produk Indonesia ternyata masih menghadapi kendala di pasar ekspor.

Terbaru, produk buatan RI, Saus Sambal Ayam Goreng ABC dan Kecap Manis ABC tersandung masalah di Singapura.

Pada 6 September 2022, Otoritas pangan Singapura, Singapore Food Agency (SFA) mengeluarkan pernyataan publik di situs resmi, terkait penarikan produk pangan asal Indonesia.

Disebutkan, alasan penarikan adalah karena pada label produk tidak mendeklarasikan kandungan bahan tambahan pangan berupa sulfur dioksida. Kandungan itu dinilai bisa menjadi salah satu pemicu alergi bagi konsumen.

SFA menjelaskan, meski kandungan sulfur dioksida tidak memicu masalah keamanan pangan pada konsumen pada umumnya, namun tidak bagi konsumen yang memiliki alergi atas kandungan tersebut.

SFA memerintahkan, semua bahan dalam makanan harus secara spesifik dicantumkan pada label kemasan, termasuk porsi yang digunakan

“Alergen dapat mengakibatkan reaksi alergi pada individu yang sensitif untuk itu. Berdasarkan Peraturan Makanan Singapura, produk makanan yang mengandung bahan-bahan yang diketahui menyebabkan hipersensitivitas harus dinyatakan pada label kemasan makanan untuk menjaga kesehatan masyarakat,” demikian mengutip pernyataan SFA, dikutip Senin (9/9/2022).

“Sebagai tindakan pencegahan, SFA telah mengarahkan importir menarik kembali barang-barang tersebut. Penarikan kembali sedang berlangsung,” demikian pernyataan publik SFA.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI kemudian merespons langkah SFA tersebut. Bahwa produk yang dimaksud SFA ternyata bukan untuk tujuan ekspor, termasuk ke Singapura.

“Temuan SFA bukan merupakan produk yang didedikasikan untuk ekspor Singapura dan hanya diedarkan di Indonesia. Produk yang ditemukan tersebut menggunakan label lokal Indonesia yang di-stiker dengan label tambahan berbahasa Inggris namun tidak lengkap mengadopsi seluruh informasi pada label,” kata Deputi III BPOM bidang Pengawasan Pangan Olahan Rita Endang dikutip Senin (9/9/2022).

Direktur Registrasi Pangan Olahan BPOM Ema Setyawati menambahkan, produk temuan SFA diduga masuk Singapura lewat mekanisme pararel export.

Produk ditempel dengan stiker menutup label aslinya dengan bahasa Inggris, dan mencantumkan tidak semua informasi. Termasuk informasi alergen, di label aslinya ada, tapi di stiker tidak ada.

“Ada perbedaan di sini, kami sedang telusuri. Pararel artiya bisa saja diambil dari industri , bisa juga dari pihak kedua, ketiga, dan seterusnya. Karena pangan adalah produk umum yang diperbolehkan siapa saja melakukan eksportasi/ importasi asalkan sesuai syarat, standar, dan peraturan,” katanya.

Hal itu, kata Ema, tentu akan menyulitkan industri di dalam negeri. Meski, imbuh dia, tidak serta merta menutup akses bagi produk-produk lain Heinz ABC Indonesia masuk ke Singapura.

Sebelumnya, produk mi instan Indonesia, Mie Sedaap Instant Cup Mi Kuah Rasa Baso Spesial juga tersandung masalah di Taiwan. CNA pada 5 Juli 2022 melansir, pengapalan mi instan dari Indonesia, Filipina, dan Jepang dihentikan oleh otoritas bea dan cukai Taiwan. Menyusul pernyataan BPOM Taiwan yang menyebutkan produk tersebut mengandung residu pestisida melebihi ambang batas.

Disebutkan, ada 19 kapal termasuk 7 diantaranya bermuatan mi instan dengan volume 4.431,96 kilogram. Di dalamnya ada 4.047,4 kg Mie Sedaap cup dari Indonesia.

Akibatnya, otoritas Taiwan menaikkan jumlah sampel impor yang diperiksa dari sebelumnya 5-10% menjadi 20%.

Marketing Manager Noodle Category Wings Food Katria Arintya Anindyantari membantah kalau Mie Sedaap mengandung residu pestisida.

“Produk Mie Sedaap tidak mengandung residu pestisida. Penahanan Mie Sedaap di negara Taiwan tidak ada kaitannya dengan hal tersebut. Penahanan produk yang terjadi dikarenakan adanya perbedaan regulasi yang diterapkan oleh regulator setempat,” katanya kepada detik.

Sementara itu, Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Fajar Himawan mengatakan, penarikan produk pangan RI jangan direspons dengan berlebihan. Justru, imbuh dia, pihak perwakilan perdagangan RI dan pebisnis harus mencari tahu alasan dibalik itu semua.

“Yang pasti kita memang harus antisipasi segala kemungkinan yang terjadi dalam konteks ekonomi global, khususnya terkait perdagangan internasional.” kata Fajar kepada CNBC Indonesia, Senin (12/9/2022).

“Kejadian-kejadian seperti itu harus dijadikan bahan evaluasi bagi eksportir yang seringkali juga tidak mendapatkan informasi yng simetris, baik dari regulator di dalam negeri, maupun di negera tujuan,” tambahnya.

Di sisi lain, Fajar mengatakan, penarikan produk RI di luar negeri bisa jadi salah satu hambatan nontarif perdagangan.

“Pastinay ini merupakan salah satu non-tariff barrier (hambatan nontarif),” kata Fajar.