korannews.com – Harga Pertamax telah naik dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per liter. Meski demikian, PT Pertamina (Persero) masih mengaku rugi menjual BBM RON 92 ini. Penyebabnya, karena harga baru Pertamax masih di bawah harga pasar. Karena itu, selisih harganya ditanggung oleh Pertamina.

Dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengungkapkan bahwa berdasarkan kategorinya, Pertamax merupakan jenis BBM umum (JBU) di mana harganya fluktuatif mengikuti kondisi komponen pembentuknya seperti Indonesian Crude Price (ICP).

“Khusus Pertamax, ini agak berbeda kalau kita lihat kategorinya dalam regulasi adalah JBU yang harganya itu fluktuatif disesuaikan ICP, floating price, tapi Pertamax kemudian pemerintah mengendalikan juga harganya,” ujarnya belum lama ini.

Penentuan harga JBU seharusnya dilepas ke mekanisme pasar, dalam hal ini diserahkan kepada badan usaha. Namun, pemerintah masih memegang kendali harga Pertamax karena jika harganya naik maka bakal ada pergeseran konsumsi ke Pertalite yang harganya lebih murah.

“Pertamax itu pemerintah kemudian mengendalikan juga harganya, karena kalau Pertamax disesuaikan dengan market price maka ini akan lebih banyak lagi yang ke Pertalite, which is itu akan membuat subsidi makin naik,” sebutnya.

Meski demikian, dengan kondisi saat ini, yaitu Pertamax naik dari Rp 12.500 per liter menjadi 14.500 per liter, maka perpindahan ke Pertalite masih akan berlangsung. Mengingat selisihnya saat ini sudah berkisar di level Rp 4.500 per liter.

“Akibatnya orang tetap bergeser ke Pertalite,” kata Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (6/9/2022).

Lebih lanjut, Bhima menyebut pembatasan idealnya dilakukan ketika harga BBM dalam kondisi rendah yakni sebelum tahun 2020, dimana harga Pertamax pada saat itu Rp 9000 per liter dan Pertalite Rp 7.650 per liter. Namun jika diterapkan saat ini, pemerintah sudah kehilangan momentum.