korannews.com – Sejumlah lentera putih berbentuk bulat di atas 33 “perahu bulan” dinyalakan di Danau Barat yang ikonik di Hangzhou, ibu kota Provinsi Zhejiang, China timur, pada Sabtu (10/9) malam.

Event tersebut merupakan puncak dari kegiatan memuja Bulan untuk merayakan Festival Pertengahan Musim Gugur, salah satu festival tradisional terpenting di China, yang tahun ini jatuh pada 10 September.

Festival ini biasanya ditandai dengan reuni keluarga, menikmati pemandangan bulan purnama, dan menyantap kue bulan.

Sejak zaman kuno, Festival Pertengahan Musim Gugur meliputi tradisi memuja Bulan. Hari ini, masyarakat China masih memuja Bulan dalam festival tersebut sebagai ungkapan harapan baik untuk rumah dan negara serta harapan yang tulus untuk kehidupan yang bahagia.

Berbagai kegiatan budaya untuk merayakan acara ini juga berlangsung di beberapa daerah lainnya di China.

Di Kota Chongqing, China barat daya, lampu warna-warni berbentuk “kelinci giok” dan lampu berbentuk bulan raksasa menerangi dek observasi di puncak bukit di jalan tua Longmenhao.

Selain itu, kalangan pecinta hanfu, pakaian tradisional dari kelompok etnis Han, juga berkumpul di jalan tua di Kota Chongqing yang didekorasi dengan cermat pada Sabtu malam untuk merayakan festival tersebut.

Dengan lampu terang benderang dan udara yang dipenuhi aroma bunga osmanthus dari seberang jalan, para warga dalam balutan busana hanfu, beberapa di antaranya membawa lentera bunga, menyusuri jalan. Pemandangan ini menambah pesona jalan kuno yang dipenuhi deretan bangunan tua itu.

“Jalan tua ini tak hanya diterangi dengan pencahayaan yang indah tetapi juga mempertahankan arsitektur tradisional yang menampilkan batu bata dan ubin biru khas China. Anda tidak akan merasa canggung berjalan di sini,” kata Deng Yuhua, seorang warga Chongqing.

Festival Pertengahan Musim Gugur tahun ini juga bertepatan dengan Hari Guru di China. Karena masyarakat China umumnya memiliki rasa hormat yang sama terhadap guru layaknya terhadap keluarga, banyak orang memutuskan untuk merayakan festival ini lebih meriah dari biasanya.

Guo Jiguang (60), warga Provinsi Fujian, China timur, adalah mantan seorang guru. Dia juga penggiat kerajinan “Kue Fumao”, sebuah bentuk warisan budaya takbenda dari Fujian.

Dalam rangka merayakan kedua festival tersebut, Guo merancang kue bulan istimewa yang dihias dengan empat karakter China, yang artinya “Mengenang guru Anda,” diukir pada permukaan kue.

Guo membuat sekitar 60.000 kue bulan serupa dan memutuskan untuk membagikannya kepada guru-guru setempat sebagai hadiah. “Orang tua memberi kita kehidupan, kawan-kawan memberi kita dukungan, dan guru memberi kita pengetahuan dan bimbingan. Mereka adalah orang-orang terpenting dalam hidup kita. Itu keyakinan saya,” kata Guo.

Selama dekade terakhir, lebih dari 4.500 guru di seluruh China telah menerima penghargaan tingkat nasional atas profesionalisme dan dedikasi mereka terhadap pendidikan.

“Pertemuan dua festival ini adalah kesempatan langka dan berharga. Rasanya indah melihat berbagai nilai tradisional China dirayakan secara harmonis di bawah bulan purnama,” kata Wan Jianzhong, seorang profesor di Sekolah Bahasa dan Sastra China di Beijing Normal University.