Gak Kaget, Ini Biang Kerok Sebenarnya Pasar Glodok Sepi Parah

Gak Kaget, Ini Biang Kerok Sebenarnya Pasar Glodok Sepi Parah

korannews.com – Fenomena mal sepi di ibu kota berlanjut hingga 2023, termasuk di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Kiprah Pasar Glodok yang dulu merupakan salah satu pusat elektronik legendaris di ibu kota sejak 1980-an semakin meredup setelah pandemi Covid-19.

Pantauan CNBC Indonesia pada Selasa (10/1) lalu, kondisi gedung tampak sangat lusuh dan ketinggalan zaman.

Tak hanya itu, kondisi langit-langit gedung juga banyak yang bolong, eskalator tak berfungsi, kios-kios yang lebih dari setengahnya tutup, debu pada lantai dibiarkan menebal hingga lengket, pencahayaan yang minim, sampai dengan pendingin ruangan yang seperti sudah tidak berfungsi sehingga menambah kesan menyeramkan di dalam gedung ini.

Dewan Penasehat Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (HIPPINDO) Tutum Rahanta mengatakan, pusat perbelanjaan atau mal yang saat ini mulai ditinggalkan pengunjung itu karena dulunya mereka didesain sebatas untuk kegiatan jual beli atau perdagangan saja.

Hal itu yang menjadi permasalahan saat ini, sebab seiring perkembangan zaman, kini fungsi pusat perbelanjaan telah bergeser menjadi suatu tempat berkumpul, dan ada juga sedikit rekreasi.

“Ada kelompok-kelompok pusat belanja yang dulu didesain pada zamannya itu seakan kios yang memang diperjualbelikan. Itu memang ada permasalahan, saat ini dengan kemajuan waktu dan zaman, kini orang-orang perlu kenyamanan. Nah pusat belanja yang memang menjadi tempat berkumpul, ada sedikit rekreasi itu masih tetap bertahan, masih ramai,” kata Tutum kepada CNBC Indonesia, dikutip Sabtu (14/1/2023).

Dia menjelaskan mal-mal yang sekarang sepi dulunya pernah ramai pengunjung, karena itu merupakan suatu hal yang baru bagi masyarakat pada zaman tersebut.

Namun dengan fungsi pusat perbelanjaan yang kini sudah bergeser, ditambah kurangnya dukungan resources atau produk-produk yang mampu membuat mereka bertahan, pusat perbelanjaan saling bersaing bahkan dengan toko online dan e-commerce.

“Dulu belum ada e-commerce. Orang merasa wah ke ITC atau Glodok sesuatu yang baru ya. Nah ternyata itu tidak bertahan lama karena mereka tidak didukung oleh resources atau produk-produk yang bisa membuat mereka bertahan. Beda dengan trendsetter di luar negeri yang mereka tiru sebelumnya, di situlah masalah. Nah itu yang akhirnya menjadi sepi,” ujarnya.

“Kalau kita lihat, area-area pusat belanja yang dulu berjaya, seperti Glodok itu sepi karena perkembangan zaman, masalahnya penjualan produk-produk demikian sudah bisa dilakukan secara online,” tambah Tutum.

Selain karena produk-produk yang dijual bisa diperjualbelikan melalui toko online atau e-commerce, menurutnya, ketidaknyamanan transportasi umum menjadi faktor pemicunya. Sebab, aksesibilitas dari transportasi umum merupakan faktor penting agar pusat perbelanjaan atau mal dapat tetap hidup.

“Analisa yang memang perlu kita cermati adalah fenomena perkembangan area-area tersebut yang mempercepat kematian mereka. Ada yang namanya 3 in 1, ada yang namanya transportasi tidak nyaman, yang selebihnya perkembangan zaman. Produk-produk yang dijual di toko fisik tersebut bisa dijual secara online atau e-commerce,” terangnya.

Tutum menjelaskan alasan Plaza Semanggi atau Plangi kini sepi dari pengunjung, yakni karena Plangi merupakan pusat perbelanjaan dengan size yang sangat tanggung. Sehingga lebih menekankan fungsi sebagai pusat perbelanjaan meeting point.

“Yang ditinggalkan orang karena memang ada campuran penyewaan kios-kios kecil di bawahnya yang membuat konsumen untuk membeli kebutuhannya tidak perlu pergi ke pusat perbelanjaan. Orang memerlukan sesuatu yang lebih wah, seperti Grand Indonesia,” ujarnya.

Adapun pusat perbelanjaan yang memang masih tetap bertahan dan bagus dalam hal tingkat kunjungan pengunjungnya adalah karena pusat perbelanjaan atau mal tersebut dikelola secara baik.

“Yang bisa kita katakan, Grand Indonesia, Plaza Indonesia, Plaza Senayan, Senayan City, dan beberapa mal-mal di pinggiran seperti Central Park, Citraland, dan contoh pusat perbelanjaan lainnya yang masih ramai dikunjungi pengunjung,” katanya.

error: Content is protected !!