korannews.com – Negara mengeluarkan dana ratusan triliun untuk subsidi energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM). Akan tetapi cara tersebut tidak mampu menurunkan angka kemiskinan dan juga ketimpangan orang kaya dan orang miskin.

“Sayang sekali subsidi dan kompensasi energi belum sepenuhnya tepat sasaran dan cenderung kurang efektif menurunkan kemiskinan dan ketimpangan, bahkan solar dinikmati desil terkaya,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Kacaribu dalam rapat dengan Badan Anggaran DPR RI, Senin (12/9/2022)

Pada tahun ini, pemerintah sudah mengeluarkan dana sebesar Rp 502 triliun untuk subsidi dan kompensasi energi. Namun ternyata itu tidak cukup. Dengan kondisi minyak dunia dan kurs, dana subsidi diperkirakan bisa membengkak menjadi Rp 650 triliun.

“Masyarakat yang berhak masyarakat miskin dan rentan di desil 1-4,” imbuhnya.

Khususnya untuk Solar, kata Febrio hanya dinikmati oleh 5% rumah tangga miskin. Pertalite juga tidak lebih baik, sebanyak 86% dinikmati oleh rumah tangga mampu. LPG 3 kg pun demikian.

“Ini kenapa subsidi komoditas cenderung tidak tepat sasaran,” kata Febrio.