korannews.com – Gubernur Ilocos Norte Joseph Manotoc mengumumkan bahwa Senin (12/9/2022) ditetapkan sebagai hari libur khusus nonkerja di provinsi tersebut.

Keputusan tersebut diambil Presiden Filipina Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr melalui Keputusan Presiden (Keppres) No 35.

Pengumuman libur di Provinsi Ilocos Norte bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-105 mantan diktator Filipina, Ferdinand Marcos Sr, yang merupakan ayah dari Bongbong.

Dilansir media Filipina, , Sabtu (10/9/2022), Ilocos Norte merupakan kampung halaman keluarga Marcos.

Kantor Kepresidenan Filipina merilis Keppres No 35 pada Kamis (8/9/2022) dan menginformasikan Manotoc mengenai hari libur tersebut.

Tanggal lahir Marcos Sr sebenarnya jatuh pada 11 September, sehingga hari libur di Provinsi Ilocos Norte ditetapkan menjadi 12 September alias hari Senin.

“Sudah sepatutnya dan tepat bahwa orang-orang di provinsi Ilocos Norte diberi kesempatan penuh untuk merayakan dan berpartisipasi dalam acara tersebut dengan upacara yang sesuai, dengan tunduk pada langkah-langkah kesehatan masyarakat dari pemerintah nasional,” bunyi Keppres itu.

Kendati demikian, Keppres No 35 tersebut ditentang oleh para penyintas darurat militer, aktivis, sejarawan, dan sejumlah tokoh, salah satunya Bonifacio Ilagan.

Ilagan merupakan penyintas darurat militer dan aktivis di Kampanye Menentang Kembalinya Marcos dan Darurat Militer.

Dia menuturkan, penetapan hari libur untuk mengenang ulang tahun Marcos Sr menunjukkan niat Bongbong untuk menghapus dan menutupi ingatan buruk aksi Marcos Sr dan kroninya terhadap bangsa.

“Bagaimana kita bisa melupakan fakta bahwa ketika kita orang Filipina hidup dalam kelaparan dan kemiskinan, Marcos dan keluarganya menjarah kas negara, membeli banyak properti di New York (AS) dan menyembunyikan kekayaan haram mereka di Swiss Banks?” kata Ilgan.

Ilagan menekankan bahwa Keppres No 35 juga menunjukkan kecerobohan dan kurangnya rasa hormat Bongbong terhadap sejarah negara.

“Pelanggaran dalam sejarah kami ini ada pada Marcos Jr dan kami akan lalai untuk tidak mengingatkannya tentang hal ini. Dia tidak boleh menggunakan posisi yang dia pegang saat ini untuk keuntungan pribadi keluarganya,” ucap Ilagan.

Sementara itu, LSM yang mengarsipkan periode keluasaan Marcos Sr, Project Gunita, menyatakan bahwa ulang tahun Marcos Sr tidak boleh dirayakan di mana pun di Filipina, termasuk di Ilocos Norte.

Francis Gealogo, profesor sejarah di Universitas Ateneo de Manila mengatakan bahwa keputusan sang presiden adalah penghinaan besar terhadap kenangan semua korban kediktatoran ayahnya.

Dia menyebut, ulang tahun Marcos Sr yang kemudian ditetapkan sebagai hari libur adalah distorsi sejarah.

“Semua yang terbunuh, ditahan, diperkosa, dan dihilangkan selama kediktatorannya secara efektif terhapus dalam sejarah kita oleh kebijakan presiden dan keluarganya yang duduk di jabatan politik yang berbeda,” kata Gealogo.

Peringatan ulang tahun ke-105 Marcos Sr terjadi beberapa hari sebelum peringatan 50 tahun deklarasi darurat militer pada 21 September 1972.

Menurut Amnesty International, lebih dari 107.000 orang menjadi korban selama darurat militer. Dari jumlah tersebut, 3.240 dibunuh oleh militer dan polisi atas perintah Marcos Sr.

Lebih dari 70.000 ditangkap secara sewenang-wenang tanpa surat perintah penangkapan, sementara 34.000 disiksa.

“Keluarga Marcos mencoba yang terbaik untuk menutupi kekejaman mereka terhadap orang-orang Filipina selama periode darurat militer, salah satu periode tergelap dalam sejarah negara itu,” tambah Gealogo, yang sebelumnya menjabat sebagai komisaris Komisi Sejarah Nasional Filipina (NHCIP).