Sekutu Putin sebut Rusia punya senjata untuk hancurkan AS

Sekutu Putin sebut Rusia punya senjata untuk hancurkan AS

korannews.com – Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Nikolai Patrushev memperingatkan bahwa Moskow mempunyai sejumlah senjata untuk menghancurkan musuh, termasuk AS atau negara mana pun yang mengancam eksistensi negaranya.

Komentar sekutu Vladimir Putin itu merupakan yang terbaru yang dilontarkan oleh seorang pejabat senior Rusia untuk meningkatkan ketakutan akan potensi konfrontasi nuklir di antara dua negara yang memiliki kekuatan nuklir terbesar di dunia itu.

‚ÄúPara politisi AS yang terjebak oleh propaganda mereka sendiri tetap yakin bahwa jika terjadi konflik langsung dengan Rusia, AS mampu meluncurkan serangan rudal preventif, setelah itu Rusia tidak dapat lagi merespons. Ini adalah kebodohan dan sangat berbahaya,” kata Patrushev kepada surat kabar Rossiiskaya Gazeta, Senin.

“Rusia sabar dan tidak mengintimidasi siapa pun dengan keunggulan militernya. Namun, Rusia mempunyai senjata-senjata khusus dan modern yang mampu menghancurkan musuh mana pun, termasuk Amerika Serikat, jika ada ancaman terhadap keberadaan negara kami”, katanya.

Rusia sebelumnya mengatakan bahwa salah satu alasan mereka mengirimkan puluhan ribu tentara ke Ukraina pada Februari tahun lalu adalah bagian dari operasi militer khusus guna melawan ancaman keamanan yang berasal dari pemulihan hubungan Kiev dengan aliansi NATO yang dipimpin AS.

Sejak saat itu, Moskow kerap menuduh Barat telah membuat ancaman nuklir terhadap Rusia.

Tak hanya itu, Moskow juga telah berbicara tentang kesiapan mereka untuk menggunakan senjata nuklir dalam keadaan luar biasa jika keberadaan negara Rusia terancam.

Presiden Vladimir Putin pada Sabtu (25/3) mengumumkan bahwa Rusia akan menempatkan senjata nuklir taktis di sekutu terdekatnya, Belarusia, yang berbatasan dengan Ukraina dan Rusia.

Pengumuman tersebut tak hanya menjadi sebuah peringatan bagi NATO yang telah memberikan dukungan militer untuk Kiev, tetapi juga meningkatkan kebuntuan konflik antara Rusia dan Barat.

Sumber: Reuters

error: Content is protected !!