korannews.com – Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Abdullah Ahmad Badawi dilaporkan menderita demensia. Kondisi mantan PM Malaysia yang biasa dipanggil ‘Pak Lah’ itu, diumumkan oleh pihak keluarga setelah banyak orang yang menanyakan kondisi kesehatannya.

Seperti dilansir kantor berita Malaysia, Bernama, Senin (12/09/2022), Menteri Kesehatan (Menkes) Malaysia Khairy Jamaluddin , yang juga menantu Abdullah, mengungkapkan kondisi ayah mertuanya itu dalam konferensi pers di Kuala Lumpur pada Minggu (11/9) waktu setempat.

Dituturkan Khairy bahwa pengumuman ini disampaikan setelah dilakukan diskusi keluarga, usai banyak orang menanyakan kondisi Abdullah — PM ke-5 Malaysia yang menjabat tahun 2004-2009 lalu.

“Pak Lah memang mengidap demensia dan kondisinya memburuk sehingga dia bahkan tidak bisa menyebutkan nama anggota keluarga karena dia tidak ingat. Dia mungkin mengenali mereka, tampaknya demikian, tapi dia telah mencapai tahap kesulitan untuk berbicara,” tutur Khairy.

“Saya baru saja bertanya kepada istri saya, ibu mertua saya dan saudara ipar saya. Saya mengatakan kepada mereka bahwa ada orang-orang yang mengetahui kondisinya, sedangkan yang lain tidak, jadi bisakah saya mengungkapkan ini (ke publik)?” ucapnya.

Khairy sebelumnya meluncurkan edisi baru pedoman praktik klinis untuk penanganan demensia dan skizofrenia.

“Saya tidak pernah membagikan (informasi) ini sebelumnya. Banyak dari Anda mungkin bertanya-tanya di mana Perdana Menteri kelima Malaysia. Demensia adalah … kondisi yang sangat kejam karena tubuhnya ada, tapi pikirannya tidak,” sebutnya merujuk pada kondisi ayah mertuanya.

“Jadi bagi anggota keluarga, pengasuh, itu menjadi situasi yang sangat sulit karena Anda melihat mereka ada di sana, tapi mereka tidak ada di sana. Saya melihat ayah mertua saya memburuk selama bertahun-tahun, jadi Anda tidak melihatnya di depan umum lagi karena demensia telah memburuk hingga ke titik di mana dia tidak bisa berfungsi normal kembali,” imbuh Khairy.

Lebih lanjut, Khairy dalam pernyataan via Twitter menuturkan bahwa telah menjadi tantangan bagi keluarga untuk melihat fungsi kognitif Abdullah memburuk.

“Beberapa orang menyadarinya, tapi banyak yang tidak menyadarinya. Keluarga memutuskan untuk mengungkapkan ini secara terbuka, sebagian untuk menyoroti demensia dan gangguan kognitif,” ucap Khairy.