Sering Kesemutan? Jangan Disepelekan, Bisa Jadi Pertanda Kondisi Medis Terganggu

Sering Kesemutan? Jangan Disepelekan, Bisa Jadi Pertanda Kondisi Medis Terganggu

korannews.comUmumnya terjadi karena satu bagian tubuh terbebani yang menyebabkan terjadinya hambatan suplai darah ke saraf-saraf yang mengarah pada bagian tubuh yang terbebani tersebut. seperti saat kita terlalu lama duduk bersila dan berlutut.

Kesemutan sering ditandai dengan rasa tidak nyaman ditusuk-tusuk, terbakar, hingga mati rasa di salah satu bagian atau kedua kaki atau tangan . Namun kesemutan bisa juga terjadi di bagian kepala, tidak hanya bagian kaki dan tangan saja.

Kesemutan yang terjadi di bagian tangan dan kaki merupakan kesemutan yang umum terjadi, kesemutan tersebut disebabkan oleh neuropati diabetic yaitu suatu kondisi rusaknya saraf akibat diabetes. Namun ada juga kondisi lain yang dapat menyebabkan seseorang mengalami kesemutan pada bagian tangan dan kaki .

Seperti seseorang yang sedang hamil, menderita kista ganglion, gagal ginjal, carpal tunnel syndrome, saraf kejepit, kekurangan hormone tiroid, terkena paparan zat kimia beracun seperti arsenic atau merkuri, hingga spondylolisthesis.

Sedangkan kesemutan yang terjadi di bagian kepala sering kali menjadi suatu hal yang dianggap sepele, hingga mengabaikan beberapa kasus bahwa kesemutan di bagian kepala dapat mengacu seseorang sedang mengalami gangguan kesehatan.

Baca Juga: Kenali Sirosis Hati, Penyakit Serius yang Dapat Mengancam Nyawa

Seperti kondisi pengidap sinusitis, stress, gangguan kecemasan, gangguan elektrolit, migrain, cedera kepala, hipertensi, terlalu berlebihan mengonsumsi minuman beralkohol, penyalahgunaan narkoba, epilepsy, multiple sclerosis, hingga tumor otak.

Selain itu kesemutan juga dapat diakibatkan karena seseorang yang sering melakukan kebiasaan-kebiasaan yang jarang disadari dapat menjadi pemicu munculnya kesemutan seperti melakukan gerakan berulang, menggunakan tangan sebagai bantal kepala, pengonsumsian nikotin atau merokok, dan minum alcohol.

Dalam suatu kondisi-kondisi tertentu, seseorang dapat mengalami kesemutan karena tubuhnya kekurangan nutrisi Vitamin B1, B6, dan B12, serta asam folat. Dimana nutrisi tersebut sangat penting untuk menjaga kesehatan fungsi saraf.

Penggunaan obat-obat tertentu juga dapat menjadi pemicu munculnya kesemutan , seperti obat untuk penderita HIV, beberapa antibiotic, dan obat kemoterapi untuk perawatan kanker dapat menimbulkan kerusakan pada saraf sehingga menyebabkan rasa kebas atau kesemutan .

Pada kondisi normal, kesemutan dapat mereda dan hilang dengan sendirinya pada bagian tubuh tertentu dengan rentan waktu tidak lama. Seperti dengan mengubah posisi tubuh pada bagian kesemutan tersebut menjadi posisi awal.

Selain itu saat dirasa tangan atau kaki terasa kebas atau kesemutan , hal yang dapat dilakukan untuk menghilangkan kesemutan tersebut yakni dengan cara menggoyang-goyangkan bagian tubuh tersebut. Hal tersebut memungkinkan adanya suplai darah di bagian tubuh yang kesemutan menjadi lancar kembali.

Baca Juga: Mengenal Trikomoniasis, Penyakit Menular Seksual yang Disebabkan Parasit Protozoa

Namun lain halnya jika kesemutan terjadi terus menerus dan berkepanjangan. Kesemutan tersebut dapat digolongkan suatu pertanda bahwa kondisi medis seseorang sedang terganggu sehingga mengalami kesemutan kronis. Kesemutan kronis biasa juga diikuti dengan gejala lain yang dapat mengganggu aktivitas keseharian seseorang.

Oleh sebab itu, penting bagi seseorang untuk mengenal kebas atau kesemutan yang dialami merupakan suatu kondisi normal atau sebagai bentuk tanda dari munculnya suatu penyakit. Dengan rutin periksakan kesehatan kepada ahlinya untuk terus mengelola pola hidup yang sehat.

Untuk mendeteksi penyebab seseorang mengalami kesemutan kronis, biasanya dokter akan menanyakan gejala dan aktivitas yang dilakukan. Serta menanyakan Riwayat penyakit pasien hingga pengobatan yang sedang dijalani.

Selain itu juga akan dilakukan pemeriksaan fisik, tes darah, pemindaian seperti foto rontgen, CT scan atau MRI. Dan pemeriksaan fungsi saraf, serta pemeriksaan lumbal pungsi atau spinal tap, hingga Biopsi dengan mengambil sampel jaringan kulit atau saraf untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium.

Pengobatan yang akan dilakukan untuk meredakan atau menghilangkan kesemutan tersebut, biasanya akan dilakukan sesuai dengan penyebab kesemutan itu sendiri. Namun tak perlu khawatir dan risau, kesemutan juga dapat dicegah intensitasnya.

Pencegahan pada kesemutan tidak selalu berhasil, namun frekuensi kemunculannya dapat dikurangi dengan melakukan sejumlah upaya. Seperti hindari melakukan gerakan berulang yang dpaat menekan saraf, istirahat secara berkala dan cukup, bangun atau berjalan dulu selama beberapa saat setelah duduk terlalu lama, dan bagi penderita diabet rajinlah untuk memantau kadar gula darah. (Khansanida Defta Maura)***