korannews.com – un 2016 hingga awal 2017, saya mengambil Sabbatical . Sebuah “keputusan berani” yang saya ambil di awal perjalanan karier saya.

Sebuah keputusan yang belakangan ini begitu saya syukuri karena mengubah drastis cara saya memandang diri sendiri dan dunia.

Selama saya mengarungi Sabbatical, berderet kegiatan saya lakukan. Mulai dari membaca ribuan buku, bertemu ribuan orang, mencoba hal-hal baru, mencoba puluhan self-assesment, menjadi sukarelawan hingga traveling ke beberapa pulau terpencil di Indonesia dengan misi “mencari jati diri”.

Tidak seperti sebagian besar teman-teman saya pada umumnya yang terus-menerus ambisius mengejar target demi target hidup, saya memberanikan diri mengambil jeda panjang karena ingin mengetahui apa yang benar-benar saya inginkan dalam hidup.

Sebuah keputusan tidak populer yang awalnya mengundang cibiran dari berbagai pihak, namun tidak pernah saya sesali karena saya merasa “terlahir kembali” menjadi pribadi yang baru.

Sebenarnya apa itu sabbatical ? Di Indonesia memang belum begitu populer sebagaimana di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, atau Inggris.

Namun belakangan saya amati sudah semakin banyak masyarakat Indonesia yang menjalaninya dengan durasi bervariasi dari satu bulan, tiga bulan, hingga lebih dari setahun seperti yang saya pernah alami.

Sabbatical berasal dari bahasa Ibrani, yaitu “Sabat” yang berarti istirahat dari pekerjaan. Istilah tersebut awalnya merujuk bagi para pemeluk Yahudi di Tanah Israel yang mengambil cuti bekerja selama setahun setiap tujuh tahun sekali.

Dalam perkembangannya mulai tahun 1880 yang dipelopori Universitas Harvard, banyak universitas dan lembaga penelitian menawarkan kesempatan cuti panjang berbayar sebagai tunjangan karyawan.

Kebijakan cuti akademik tersebut awalnya dirancang membantu para akademisi untuk beristirahat, melakukan riset, menulis untuk jurnal internasional, tugas belajar atau mengajar di kampus lain.

Di kemudian hari, Sabbatical tidak lagi dimonopoli oleh kalangan akademisi karena popularitasnya meningkat di abad ke-21.

Menurut temuan Society For Human Resource Management, setidaknya 17 persen perusahaan menawarkan semacam kebijakan cuti panjang kepada karyawan mereka pada tahun 2017.

Mereka dapat dibayar atau tidak dibayar dengan jangka waktu yang bervariasi, dari beberapa minggu hingga lebih dari satu tahun.

Di Indonesia, Sabbatical lebih dikenal dengan istilah Cuti Besar atau Sabbatical Leave. Menurut pengamatan saya, cuti besar tersebut sudah mulai diberlakukan di kalangan dosen di perguruan tinggi, PNS, pekerja NGO, dan sejumlah perusahaan ternama.

Cuti panjang adalah “istirahat panjang” dari pekerjaan. Seseorang yang mengambil cuti panjang masih menjadi karyawan suatu institusi, tetapi mereka tidak harus melapor untuk bekerja atau menyelesaikan tugas harian mereka meskipun kebijakannya berbeda-beda di setiap lembaga.

Beberapa individu menggunakan cuti panjang mereka untuk beristirahat dan bersantai. Perusahaan biasanya menawarkan cuti panjang kepada karyawan level tinggi yang telah menjadi bagian dari organisasi setidaknya selama lima tahun.

Lantas, mengapa Sabbatical itu penting? Berdasarkan pengalaman pribadi dan temuan riset dari berbagai lembaga, berikut adalah beberapa manfaat mengambil Sabbatical atau cuti panjang.

Pertama, memenuhi goal pribadi. Sabbatical adalah kesempatan besar bagi seseorang untuk memenuhi tujuan pribadi. Mereka dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang mereka tidak pernah punya waktu untuk mengeksplorasi sebelumnya.

Misalnya, mereka mungkin mendapat kesempatan untuk menjadi sukarelawan di negara asing atau melakukan penelitian independen.

Jika seseorang menggunakan cuti panjang mereka untuk terlibat dalam kegiatan produktif bukan hanya relaksasi, mereka dapat mengembangkan keterampilan yang berharga dan meningkatkan pengetahuan mereka. Hal ini dapat menyebabkan kepuasan pribadi yang besar.

Keterampilan dan pengetahuan ini juga terbukti berguna di tempat kerja, membuat mereka lebih berharga.

Dalam konteks saya, saya berhasil merampungkan lima naskah buku selama masa jeda. Di antaranya adalah The Calling: Rahasia Menyadari Apa yang Benar-Benar Anda dan Tuhan Inginkan yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.

Kedua, mengasah keterampilan. Secara umum, sebagian besar perusahaan menawarkan Sabbatical kepada karyawan yang lebih berpengalaman.

Ketika karyawan yang berpengalaman berada jauh di berbagai negara untuk mengeksplorasi minat lain, karyawan yang lebih muda dapat mengambil lebih banyak tanggung jawab di dalam perusahaan.

Mereka dapat mengembangkan keterampilan mereka, menerima tugas baru dan bahkan mengambil peran kepemimpinan.

Karyawan yang lebih muda mungkin menjadi lebih percaya diri karena mereka memperoleh lebih banyak tanggung jawab.

Mereka mungkin dapat menangani ketidakhadiran yang tidak terduga jika terjadi di masa mendatang.

Perusahaan juga dapat melakukan perencanaan suksesi ketika posisi kosong tersedia di perusahaan.

Secara keseluruhan, cuti panjang memungkinkan tenaga kerja perusahaan untuk beradaptasi dan menjadi lebih fleksibel.

Ketiga, menemukan jati diri. Dalam konteks saya, inilah yang paling penting. Dengan mengambil jeda, saya memiliki lebih banyak waktu untuk bereksplorasi.

Saya meminta bantuan psikolog, hypnotherapist, career coach, dan konselor untuk memberikan nasihat kepada saya.

Dengan mempertimbangkan kekuatan, minat, bakat, keterampilan, dan passion; Sabbatical menjadi titik balik yang memandu saya untuk menyadari panggilan hidup.

Berkat Sabbatical, saya semakin yakin dengan peta jalan atau ‘”cetak biru” karier di masa depan.

Keempat, memberikan perspektif baru. Sabbatical menawarkan waktu yang lebih panjang untuk bereksplorasi.

Dalam konteks saya; dengan mencoba berbagai hal baru, bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, menjadi sukarelawan, traveling ke pulau-pulau terpencil yang jauh dari keriuhan megapolitan seperti Jakarta menyadarkan saya pentingnya hidup yang bermakna.

Cara pandang saya melihat dunia berubah drastis. Saya menjadi semakin menyadari apa yang benar-benar membuat saya bahagia dan bermakna — bukan sekadar meraih keberhasilan semua di dunia yang fana ini.

Kelima, mengajarkan hakikat hidup. Jika ada ungkapan, “Pengalaman itu tidak bisa dinilai dengan uang”, saya sangat mengamininya.

Kebanyakan orang di dunia ini mengejar cuan untuk bisa membeli barang-barang bermerek, jalan-jalan ke berbagai belahan dunia, meraih popularitas atau kedudukan tertentu.

Tidak ada yang salah memang menjadi manusia seperti itu. Namun yang keliru adalah ketika kebanyakan dari kita menunggu semua itu tercapai sebagai syarat untuk berbahagia.

Padahal kebahagiaan itu tanpa syarat alias tidak ditentukan oleh apa yang ada di luar diri kita.

Sabbatical benar-benar mengajarkan saya untuk berdamai dengan diri sendiri, lebih berempati kepada orang lain, lebih menghargai waktu, dan lebih berkontribusi untuk dunia yang lebih baik.

Nah, bagaimana dengan Anda? Apakah sudah mempertimbangkan untuk mengambil Sabbatical? Jika ya, ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan.

Pertama, biaya. Pastikan Anda benar-benar cermat merencanakan anggaran biaya selama cuti panjang. Jangan sampai Sabbatical membuat cashflow Anda hancur. Alokasikan dana khusus untuk cuti panjang tanpa mengganggu anggaran biaya bulanan Anda.

Kedua, durasi. Tidak semua orang memiliki “privilege” menikmati Sabbatical selama lebih dari setahun seperti saya.

Pastikan Anda mengetahui kebijakan di tempat kerja Anda sebelum mengambil cuti panjang. Pastikan Anda sudah memahami risiko sekaligus peluang yang akan Anda peroleh selama menikmati jeda.

Ketiga, goal. Setiap orang memiliki goal unik. Begitu pun Anda. Pastikan Anda memiliki alasan yang kuat dan goal yang jelas sebelum mengambil Sabbatical.

Jangan sampai waktu yang Anda akan “investasikan” terbuang bercuma. Jangan sampai Anda menyesali keputusan Anda di kemudian hari.

Akhir kata, mengambil Sabbatical adalah pilihan. Karena hidup adalah memilih; tapi untuk dapat memilih dengan baik, Anda harus tahu siapa diri Anda, untuk apa Anda ada, ke mana Anda ingin pergi, dan mengapa Anda ingin sampai di sana.