Rakyat Rusia masih dukung Putin

Rakyat Rusia masih dukung Putin

Rakyat Rusia masih dukung Putin

Kelas menengah yang relatif kaya di negara itu kemungkinan telah terisolasi dari korban perang. Tidak heran jika banyak dari mereka yang tewas dalam aksi tersebut berasal dari wilayah Rusia yang penduduknya berasal dari kalangan bawah. 

Menurut temuan Mediazona, Wilayah dengan jumlah korban tertinggi yang tercatat sebagai republik etnis Dagestan dan Buryatia. Sebaliknya korban dari kota kalangan atas dan terdapat di Rusia daerah Moskow dan St. Petersburg relatif rendah.

Selain itu, popularitas Putin terkadang dikaitkan dengan iklim ketakutan dan konformitas. Menurut OVD-Info, sebuah kelompok independen yang melacak penahanan di Rusia, 16.380 orang telah ditangkap atau ditahan karena aktivitisme antiperang di Rusia dan 75 kasus kriminal telah dibuka dibawah undang-undang berita palsu di Rusia.

Invasi Rusia ke Ukraina telah menghidupkan kembali diskusi di antara para sarjana tentang apakah rezim Putin harus dicap sebagai fasis atau tidak. Itu mungkin tampak sebagian besar pernyataan taksonomi, tetapi ini menunjukkan kenyataan yang jelas. Setelah 24 Febuari, istilah seperti otokratis atau otoriter tidak memadai untuk menggambarkan negara yang tidak mentolerir perbedaan pendapat internal. 

Akankah opini publik berubah?
Beberapa pengamat bertanya-tanya berapa lama Putin dapat mengandalkan dukungan segmen luas publik Rusia di tengah sanksi Internasional yang keras telah mengisolasi Rusia dari ekonomi global dan secara drastis memotong pasokan impor. 

Investasi barat sebagian besar telah meninggalkan negara Rusia. Sektor ekonomi seperti penerbangan yang telah lama bergantung pada pesawat yang di produksi di AS atau Eropa sangat terpukul keras. 

Seperti yang baru-baru ini dicatat oleh Clare Sebastian dari CNN, Putin dan para teknokratnya telah bekerja selama bertahun-tahun untuk membuktikan gagalnya sanksi terhadap ekonomi Rusia. Melalui substitusi impor yang dapat mengembangkan pengganti buatan dalam negeri untuk barang-barang impor, dan mengembangkan sistem pembayaran untuk menghindari isolasi finansial. 

Tetapi sebuah studi baru-baru ini yaitu dari Chief Executive Leadership Institute dari Yale School OF Management melukiskan gambaran yang lebih mengerikan. Penulis studi itu berpendapat bahwa Rusia tidak memiliki infrastruktur untuk sekedar memutar ekspor energi seperti gas alam ke Asia. 

Pabrik Rusia kekurangan suku cadang dari pemasok Internasional, dan bahwa statistik resmi Rusia menutupi kedalaman kemunduran ekonomi Rusia. “Terlepas dari delusi Putin tentang swasembada dan substitusi impor, produksi dalam negeri Rusia terhenti total tanpa kapasitas untuk menggantikan bisnis, produk, dan bakat yang hilang”, kata laporan itu. “Pengosongan inovasi domestik dan basis produk Rusia telah menyebabkan melonjaknya harga dan kecemasan konsumen”, tambahnya. 

Namun sistem keuangan Rusia belum runtuh, dan kecemasan konsumen belum diterjamahkan ke dalam kerusuhan politik. Untuk Ukraina dan para pendukungnya, percakapan kini telah bergeser untuk menemukan cara untuk menyakiti Rusia atas dukungan pasif mereka terhadap Putin. 

“Kami sedang mengerjakan sanksi baru terhadap Rusia dan merangsang warga negara teroris untuk merasakan tanggung jawab atas apa yang terjadi,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam pidato baru-baru ini. “Diskusi tentang pembatasan visa di Eropa untuk pemegang paspor Rusia berkembang setiap hari, negara-negara baru dan politisi baru bergabung,” tambahnya di dalam pidato tersebut oleh Presiden Ukraina. 

Tidak jelas apakah larangan visa pada akhirnya akan mengubah perilaku Rusia. Beberapa pemimpin Eropa, terutama Kanselir Jerman Olag Scholz, enggan mendukung larangan tersebut. Berbicara pada konferensi pers baru-baru ini di Oslo, Scholz mengatakan kepada wartawan bahwa “Para pemimpin harus sangat jelas tentang masalah larangan visa. Karena tindakan Ukraina adalah perang Putin dan bukan perang rakyat Rusia”.


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.

Exit mobile version