korannews.com – Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan tantangan utama dalam mewujudkan target produksi udang nasional sebanyak 2 juta ton pada tahun 2024 yaitu terkait lahan.

“Soal modelling kita sudah programkan juga namun lahannya yang sampai hari ini masih mencari,” katanya dalam rapat kerja dengan Komisi IV di Jakarta, Senin.

Menteri Trenggono menjelaskan pencarian lahan memang tidak mudah. Ia menyebut ada juga yang sudah didapatkan tetapi setelah dicek ternyata baru ketahuan jika wilayah tersebut rentan rob.

“Salah satu kandidat terkuat di Sulawesi Barat yang bekerjasama dengan KLHK,” katanya.

Guna mengejar target produksi udang 2 juta ton pada 2024, KKP akan memulainya dari evaluasi tambak yang ada, kemudian melakukan revitalisasi tambak tradisional, dan membangun tambak udang modelling skala industri berbasis kawasan.

Menteri Trenggono menjelaskan saat ini Indonesia memiliki 247 ribu hektare lahan tambak udang, sayangnya produktivitasnya masih sangat rendah yakni hanya 0,6 ton per hektare per tahun.

Ia berharap upaya revitalisasi tambak tradisional menjadi semi intensif atau intensif akan dapat mendongkrak produksi udang minimal 15-20 ton per hektare.

“Meningkat minimal 15-20 ton per hektare saja sangat luar biasa produksi kita. Dan kita mungkin bisa masuk di 10 besar eksportir dunia. Itu butuh biaya yang tidak sedikit, tidak kurang dari Rp2-3 triliun untuk mengembangkan itu,” kata Menteri Trenggono.

Udang merupakan komoditas perikanan yang sangat diminati oleh pasar dunia, di mana permintaan pasar udang global berada di nomor dua setelah salmon. Indonesia selama kurun waktu 2015-2020 berkontribusi terhadap pemenuhan pasar udang dunia rata-rata sebesar 6,9 persen.

Selain mendorong pengembangan budidaya udang menggunakan konsep hulu hilir untuk memacu peningkatan produksi udang nasional, budidaya udang dapat berkontribusi lebih besar lagi pada pertumbuhan ekonomi nasional maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat pembudidaya.

Sepanjang tahun 2021, nilai ekspor udang Indonesia mencapai 2,2 miliar dolar AS, tertinggi di antara komoditas perikanan lainnya.