korannews.com – Harga batu bara melemah 2,34% pada pekan lalu meskipun mencatatkan rekor tertingginya pada Senin. Harga batu bara diperkirakan masih akan melandai pada pekan ini karena ancaman resesi di Eropa, meredanya kekhawatiran mengenai persoalan gas di Eropa, hingga perlambatan ekonomi di China.

Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (9/9/2022), harga batu kontrak di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 430,6 per ton. Harganya melandai 0,81%.

Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif emas hitam. Batu bara terus melemah sejak Selasa pekan lalu setelah mencatatkan rekor baru pada Senin (5/9/2022) di harga US$ 463,75 per ton.

Pelemahan batu bara sebesar 2,34% pada pekan lalu juga menjadi pembalikan arah dari pergerakan pekan sebelumnya di mana harga batu bara menguat 3,26% sepekan. Dalam sebulan, harga batu bara masih melonjak 3,6% sementara dalam setahun masih melesat 183,76%.

Analis Industri Bank Mandiri Ahmad Zuhdi memperkirakan harga masih akan tertekan beberapa minggu ke depan. Dia menambahkan faktor utama dari pelemahan harga batu bara ke depan adalah kekhawatiran resesi. Sinyal resesi tersebut mulai tercermin dari terus melandainya harga minyak mentah dan gas.

Seperti diketahui, krisis energi di Eropa diperkirakan akan mempercepat resesi di kawasan tersebut. Harga energi yang menjulang akan meredam permintaan serta aktivitas produksi di Benua Biru.”Harga berpotensi turun ke US$ 420/ton karena tingginya ekspektasi resesi. Ekspektasi resesi utamanya karena harga minyak dan gas sudah turun” tutur Zuhdi, kepada CNBC Indonesia.

Harga minyak mentah jenis brent pekan lalu melandai 0,24%. Harganya juga sempat menyentuh kisaran US$ 88-89 per barel.

Sementara itu, harga gas Eropa yang mencetak rekor baru pada Senin lalu juga terus menyusut. Pada perdagangan Jumat (9/9/2022), harga gas alam EU Dutch TTF (EUR) kemarin menyusut menjadi 207,09 euro per megawatt-jam. Level tersebut adalah yang terendah sejak 12 Agustus 2022 atau hampir sebulan terakhir.

Melandainya harga gas ikut menyusutkan harga batu bara karena pasir hitam merupakan sumber energi alternatif bagi gas. Mulai melemahnya gas didorong oleh kesepakatan Uni Eropa untuk mempercepat langkah mendesak untuk menurunkan harga gas serta meredanya kekhawatiran mengenai pasokan gas.

Seperti diketahui, menteri-menteri energi Eropa berkumpul pada Jumat waktu setempat (9/9/2022) untuk membahas krisis energi yang mereka hadapi sekaligus mencari cara agar harga energi tetap terjangkau.

Sejumlah proposal tengah digodok mulai dari penerapan batas harga gas Rusia, pembatasan penggunaan energi pada jam-jam sibuk, dan “tax solidarity” untuk produsen bahan bakar fosil.

Pengisian gas di storage di Eropa kini sudah mencapai 80. Negara-negara eropa juga optimis bahwa storage gas mereka akan terisi 90% sesuai target pada November mendatang.

Optimisme tersebut menguatkan keyakinan Eropa jika mereka bisa melewati musim dingin tahun ini dengan lebih baik.

Harga batu bara ke depan juga masih dibayang-bayangi melemahnya perekonomian China. Impor minyak China pada tahun ini kemungkinan akan turun. Penurunan tersebut adalah untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terahir.

Impor minyak China melandai 4,7% pada periode Januari-Agustus 2022. Sementara itu, impor batu bara China pada periode yang sama anjlok 14,9%.

China merupakan konsumen terbesar batu bara di dunia dan nomor kedua terbesar di dunia untuk minyak. Pelemahan impor dari China akan sangat mempengaruhi harga komoditas tersebut.

Turunnya permintaan energi juga bisa menjadi sinyal bagi perlambatan ekonomi China ke depan.

TIM RISET CNBC INDONESIA