Harga Minyak Turun ke Bawah US$ 80/dolar, BBM Turun Nggak?

Harga Minyak Turun ke Bawah US$ 80/dolar, BBM Turun Nggak?

korannews.com – Harga minyak mentah berbalik terkoreksi pada perdagangan Jumat (23/9/2021) waktu setempat. Pemicunya adlalah, dolar Amerika Serikat (AS) mencapai level terkuatnya dalam lebih dari dua dekade ditambah kekhawatiran kenaikan suku bunga akan mendorong ekonomi utama ke dalam resesi.

Harga minyak mentah jenis Brent ambles 4,76% ke posisi harga US$ 86,15 per barel, sedangkan untuk jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) ambruk 4,86% menjadi US$ 78,74 per barel

Hal ini menjadi penurunan minggu keempat berturut-turut untuk harga minyak mentah keduanya, pertama kali ini terjadi sejak Desember tahun lalu.

Secara teknikal, keduanya berada di zona oversold, dengan WTI di jalur untuk penyelesaian terendah sejak 10 Januari dan Brent untuk terendah sejak 14 Januari.

Harga minyak mentah dunia yang kembali ambrol terjadi karena dolar AS makin perkasa, di mana dolar AS menyentuh level tertingginya dalam lebih dari 20 tahun terakhir.

Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang dunia lainnya pada pekan ini melesat 3,12%.

“Kami memiliki dolar yang meledak lebih tinggi dan menekan komoditas berdenominasi dolar seperti minyak dan meningkatnya kekhawatiran atas resesi global yang akan datang karena bank sentral menaikkan suku bunga,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York, sebagaiman dikutip dari Reuters.

Kebijakan moneter yang ketat mendorong dolar AS untuk melaju. Pada Rabu lalu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia, bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin (bp) menjadi 3% – 3,25%, serta menegaskan sikap agresifnya.

Suku bunga The Fed kini berada di level tertinggi sejak awal 2008, dan masih akan dinaikkan hingga inflasi kembali ke 2%.

“FOMC (Federal Open Market Committee) sangat bertekad untuk menurunkan inflasi menjadi 2%, dan kami akan terus melakukannya sampai pekerjaan selesai,” kata ketua The Fed, Jerome Powell, sebagaimana dilansir CNBC International.

The Fed kini melihat suku bunga akan mencapai 4,6% (kisaran 4,5% – 4,75%) di tahun depan. Artinya, masih akan ada kenaikan 150 basis poin dari level saat ini.

Bahkan, beberapa pejabat The Fed melihat suku bunga berada di kisaran 4,75 – 5% di 2023, sebelum mulai turun di 2024.

Hal ini membuat dolar AS menjadi sangat perkasa, sehingga harga minyak mentah dunia pun terdampak dari perkasanya sang greenback.

“Harga minyak kembali ambruk karena kekhawatiran pertumbuhan global mencapai mode panik mengingat paduan suara komitmen bank sentral untuk memerangi inflasi. Tampaknya bank sentral siap untuk tetap agresif dengan kenaikan suku bunga dan itu akan melemahkan aktivitas ekonomi dan prospek permintaan minyak mentah jangka pendek,” kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA, dilansir dari Reuters.

Di lain sisi, penurunan aktivitas bisnis di Uni Eropa semakin dalam pada September, sebuah survei menunjukkan, menunjukkan resesi membayangi karena konsumen mengendalikan pengeluaran dan karena pemerintah mendesak konservasi energi menyusul langkah Rusia untuk memotong pasokan energi Eropa.

Sementara itu, perang yang kembali memanas juga turut membebani harga minyak dunia. Perang kembali memanas setelah Rusia meluncurkan referendum yang bertujuan untuk mencaplok empat wilayah yang diduduki Ukraina, meningkatkan taruhan perang dalam apa yang disebut Kyiv palsu.

Di sisi penawaran, upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015 telah terhenti karena Teheran bersikeras pada penutupan penyelidikan pengawas nuklir AS, meredakan ekspektasi kebangkitan ekspor minyak mentah Iran.

TIM RISET CNBC INDONESIA