korannews.com – Tingkat kunjungan ke sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Pangandaran menurun.

Penurunan terjadi setelah kenaikan bahan bakar minyak ( BBM ) subsidi, beberapa hari yang lalu.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UMKM Kabupaten Pangandaran , Tedi Garnida mengatakan, daya beli warga di sejumlah pasar tradisional , menurun.

“Ya ada penurunan daya beli masyarakat di pasar tradisional sekitar 20 persen,” ujar Tedi, Minggu 11 September 2022.

Baca Juga: Bjorka Sebut Ini Sosok Pembunuh Munir, Begini Kronologi Kasusnya

Ia menilai, penurunan daya beli ini karena masyarakat sengaja membatasi pengeluaran secara berlebihan sejak harga BBM bersubsidi naik.

“Mungkin masyarakat membatasi pembelian secara berlebihan dan hanya untuk kebutuhan yang penting-penting saja,” ujar Tedi.

Kendati adanya kenaikan harga BBM , Tedi mengatakan, sampai kemarin, harga sejumlah komoditas pangan masih relatif stabil.

”Bahkan ada beberapa komoditas yang malah mengalami penurunan harga, meski belum signifikan,” ucapnya.

Penurunan harga, misalnya terjadi pada cabai rawit yang semula harganya Rp 56.000 turun menjadi Rp 55.000 per kilogramnya. Termasuk cabai merah dari Rp 60.000 turun menjadi Rp 50.000.

Baca Juga: Jadi Momen Paling Dinanti, Anak dan Menantu Raja Charles III Berkumpul di Momen Berkabung

Sektor wisata

Dampak kenaikan harga BBM tak hanya berpengaruh terhadap penurunan daya beli masyarakat di pasar tradisional , tetapi juga pada sektor pariwisata .

Hal tersebut diungkapkan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Pangandaran Agus Mulyana.

Menurut Agus, kenaikan BBM bersubsidi berpengaruh pada biaya operasi hotel dan restoran, terutama pada bahan baku.

“Sampai sejauh ini tidak ada yang resmi menaikkan harga operasional, tetapi secara pribadi atau manajemen, itu pasti ada yang naik. Seperti menaikan sewa harga kamar,” kata Agus Mulyana.

Namun demikian, dia mengimbau, apabila harus menaikkan biaya operasi atau harga kamar, harus diimbangi dengan kenaikan pelayanan.

“Servisnya juga harus lebih baik, sehingga kenaikan harga menjadi seimbang dengan pelayanan hotel maupun restoran,” ujarnya.

Agus Mulyana juga menambahkan, pada pekan ini, tingkat kunjungan hotel saat akhir pekan juga mengalami penurunan.***