korannews.com – Pemerintah telah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan komoditas itu dipastikan akan mempengaruhi aspek kebutuhan masyarakat lainnya, yang pada akhirnya mendorong laju inflasi.

Definisi inflasi sendiri berdasarkan situs resmi Bank Indonesia (BI), inflasi diartikan sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Gampangnya memang kenaikan harga-harga barang dan jasa.

Kementerian Keuangan telah memberikan sinyal kenaikan inflasi akibat naiknya harga BBM. Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu beberapa waktu lalu.

Ia memprediksi meningkatnya harga BBM bisa mencapai 6,8% sampai pada tahun ini. Meski begitu, Kemenkeu mengaku tetap akan menjaga tetap di bawah 7%.

“Kita sudah hitung naiknya 1,9% dari BBM ke inflasi. Kisarannya 6,6%-6,8% (tahun ini),” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (5/9/2022).

Menghadapi situasi tersebut, kenaikan harga barang dan jasa tentu akan berpengaruh kepada keuangan sendiri maupun rumah tangga. Biaya kebutuhan dipastikan akan meningkat.

Untuk itu, perlu adanya strategi baru dalam mengatur keuangan ke depan dan juga dalam memilih instrumen investasi yang tepat. Jangan sampai saat inflasi meningkat, biaya kebutuhan habis begitu saja tanpa adanya simpanan jangka pendek maupun panjang.

Perencana Keuangan Aidil Akbar Madjid menerangkan dalam menghadapi kenaikan inflasi, pertama perlu menata ulang lagi keuangan kita terutama membedakan mana kebutuhan dan keinginan. Mengurangi pengeluaran-pengeluaran yang tidak penting.

“Pengeluaran-pengeluaran yang bisa ditunda, ya bisa ditunda dulu. Atau dicari penggantinya. Misalnya gym kalau duitnya pas pasan digantinya dengan lari sore, kita sendiri yang tahu mana pengeluaran-pengeluaran yang bisa dicari penggantinya,” ungkapnya kepada detikcom.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Kemudian bagaimana dalam memilih instrumen investasi, saat inflasi meningkat. Menurut Aidil paling tidak investasi yang dipilih bisa mengalahkan inflasi.

“Inflasi itu kan banyak, kalau saya inflasinya pakai yang inflasi biaya hidup. Consumer price indeks, kalau pakai inflasi BPS kan hanya 3% atau 4% sementara kebutuhan kita kan bisa lebih dari itu. Kalau pakai inflasi biaya hidup itu bisa 10-12%. Kalau inflasinya nanti akan naik ke 6% atau 7%. Maka inflasi konsumsinya akan naik 15%,” ungkapnya.

Mengingat tipsnya menghadapi inflasi adalah mencari investasi yang returnnya di atas kenaikan inflasi, Aidil mewanti-wanti risikonya tentu saja tinggi. Misalnya saja mencari instrumen investasi yang returnnya 10-12%. Untuk itu, investasi yang dicari adalah untuk jangka panjang.

“Jika mencari investasi di atas inflasi itu kan berisiko ya, berarti investasinya yang jangka panjang. Jadi itu dulu yang harus dipahami,” ungkapnya.

Nah instrumen investasi apa yang bisa dipilih? Aidil menyebutkan mulai dari pasar modal, saham campuran, properti hingga kripto. “Jenis-jenis itulah yang memberikan return di atas inflasi tadi. Tetapi kita mesti tahu juga itu ada resikonya,” jelaskan.

Sementara, Perencana keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho mengatakan jika mencari instrumen investasi dengan return di atas inflasi, investasi yang dicari tidak hanya dengan investasi yang memberikan return di atas inflasi.

“Menurut saya PR pertama kita lebih, misalnya kita mencari instrumen investasi yang setinggi itu, tebakan saya itu udah masuk ke ranah, kalau dilihat dalam menerima risiko, itu sudah yang resikonya tinggi. Pertanyaannya adalah, kita siap mental nggak kita menerima resiko tadi,” terangnya.

Andi mengingatkan, jangan sampai ketika mencari instrumen investasi dengan return yang tinggi. Ia juga mengatakan jangan juga memaksakan kemampuan dari risiko investasi.

Menurut Andi, dalam memilih instrumen investasi ketika dihadapkan dengan kenaikan inflasi, tetap harus mengetahui nilai risiko sesuai kemampuan kita dalam berinvestasi. Kemudian, baru memilih instrumen investasinya. Menurutnya jangan sampai karena mengejar return di atas inflasi, tanpa mengenali kemampuan diri sendiri.

“Ketika kita tahu bisa menerima risiko seperti apa, tiu kita mix. Misalnya ‘ohh saya paham, saya tipikalnya konservatif’. Artinya jangan 100% itu dimasukan ke instrumen investasi yang pertama sudah bertentangan dengan profil risiko kita. Kita ambrukin semua di situ, berarti risiko kita makin tinggi lagi, jelasnya.

Intinya yang paling penting, jangan memasukan semua investasi ke satu instrumen saja. Andi memberikan tips untuk membagi-bagi nilai investasinya.

“Misalnya tahun depan ada Obligasi Negara Ritel atau ORI, misalnya kita taruh di situ 50%, kemudian 25% masuk ke instrumen pasar saham dan 25% lagi masuk ke reksadana yang basisnya campuran. Jadi tidak semuanya masuk ke instrumen masuk ke berisiko tinggi,” ungkapnya.

“Kalau buat saja jadi tetap ada proporsinya. Meskipun dia agresif, itu tetap saya sarankan untuk tidak masukan 100% yang berisiko tinggi, tetap harus ada remnya. Misalnya reksadana lah yang berbasis tetap atau ORI,” tutupnya.