korannews.com – Ketua DPRD Provinsi Bali I Nyoman Adi Wiryatama menyebut sejauh ini rencana pembebasan lahan terkait pembangunan Tol Jagat Kerthi Bali sepanjang 96,21 kilometer tidak ada masalah.

“Secara umum apa yang ditargetkan pemerintah pada sosialisasi (pembangunan tol-red) tidak ada masalah di lapangan. Jadi, masyarakat sudah menerima,” kata Adi Wiryatama usai menghadiri Sidang Paripurna DPRD Bali di Denpasar, Senin.

Menurut dia, terkait rencana pembangunan tol yang menghubungkan Mengwi (Kabupaten Badung) hingga Gilimanuk (Kabupaten Jembrana) itu tentunya juga sudah melalui mufakat harga terlebih dahulu mengenai pembebasan lahan-lahan masyarakat yang terkena proyek tol.

“Kalau masyarakat sudah menerima, tinggal pelaksanaan, ada uang, tinggal dibayar,” ucap Adi Wiryatama.

Mantan Bupati Tabanan itu menambahkan, uang penggantian pembebasan lahan pada proyek yang ditargetkan rampung pada 2025 tersebut tentunya ditunggu masyarakat yang lahannya terkena proyek tol.

Terkait besaran uang ganti rugi pembebasan lahan tersebut bervariasi, Adi Wiryatama mengatakan untuk lahan di perkotaan harganya akan lebih tinggi dibandingkan dengan lahan sawah.

“Di lapangan, sepengetahuan saya sudah mulai diukur, ada rumah orang yang dilewati jalur sudah dipatok. Artinya, kalau sudah memulai sesuatu itu dicanangkan, berarti sudah serius tindak lanjutnya,” kata politisi dari Kabupaten Tabanan tersebut.

Yang jelas, ujar dia, konsep-konsep mengenai tol itu sudah bisa diterima oleh masyarakat, tinggal menunggu pelaksanaan pemerintah pusat.

“Mari kita tunggu bersama, mudah-mudahan tidak ada hal yang lain sehingga bisa berjalan dengan baik,” ucapnya.

Dengan terwujudnya tol yang menghubungkan kawasan Bali bagian tengah dengan barat itu diharapkan dapat lebih memudahkan jalur ekonomi dan pariwisata Bali.

Sebelumnya Menteri PUPR Basuki Hadimuljono saat peletakan batu pertama pembangunan Tol Jagat Kerthi Bali pada Sabtu (10/9) di Jembrana menargetkan agar infrastruktur jalan ini rampung pada tahun 2025.

“Saya minta tol 96,21 kilometer ini segera selesai karena ini kebutuhan untuk masyarakat agar bisa selesai 2025,” kata Basuki dalam sambutannya.

Tol Jagat Kerthi Bali sendiri merupakan jalan tol penghubung Gilimanuk-Mengwi yang akan menjadi akses utama bagi kendaraan umum, roda empat, roda dua, bahkan sepeda, dari Kabupaten Jembrana, Tabanan, hingga Badung.

Trase tol sepanjang 96,21 kilometer itu secara rinci akan melewati tiga kabupaten, 13 kecamatan dan 58 desa dengan estimasi biaya konstruksi sebesar Rp24 triliun.

Sementara itu Gubernur Bali Wayan Koster menyebut berdasarkan desain trase, pembangunannya menghindari subak maupun tempat suci.

Sedangkan tujuan dari Tol Jagat Kerthi Bali adalah sebagai sarana yang memberi kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seluruh masyarakat Bali yang diyakini mampu memberi dampak positif.

“Dampak positif peningkatan investasi pembangunan, peningkatan lapangan kerja, efisiensi jarak waktu tempuh logistik, akan mampu menjadi pemicu timbulnya destinasi baru serta pertumbuhan pusat-pusat ekonomi baru, dan menyeimbangkan pembangunan antar wilayah di Bali,” kata Koster.