korannews.com – Kesuksesan tiga pengusaha berhasil meraup untung dari sektor teknologi dan berbisnis data center di Indonesia. Mengutip majalah Forbes yang merilis daftar orang terkaya dunia sejak tahun 1987, menyebut tiga nama baru yang masuk daftar orang terkaya di sektor tersebut untuk tahun 2021.

Ketiga nama tersebut, yang merupakan para pendiri DCI Indonesia, yakni Otto Toto Sugiri, Marina Budiman dan Han Arming Hanafia.

Meroketnya harga saham emiten pusat data (data center) PT DCI Indonesia Tbk (DCII) sejak melantai di bursa pada Januari tahun ini turut membuat mereka masuk dalam daftar 50 besar orang terkaya di Indonesia pada 2021 versi Forbes.

Otto Toto Sugiri

Menurut laporan Forbes teranyar, Presiden Direktur DCII Otto Toto Sugiri menempati peringkat ke-19 orang terkaya di Tanah Air dengan total kekayaan US$ 2,5 miliar, sumber kekayaannya berasal dari bisnis data center.

Sepak terjangnya dapat ditarik puluhan tahun lalu ia mendirikan perusahaan pertamanya PT Sigma Cipta Caraka pada tahun 1989. Perusahaan perangkat lunak rumahan paling awal di Indonesia tersebut menjadi salah satu yang terbesar berdasarkan penjualanhingga kemudian diakuisisi oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) melalui TelkomMetra pada 2010 dan berganti nama menjadi Telkom Sigma.

Dari sana, pemegang gelar master of science in engineering dari Universitas Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule Aachen, Jerman tersebut, mendirikan penyedia layanan internet pertama di Indonesia, PT Indointernet (sekarang PT Indointernet Tbk/EDGE) pada tahun 1994, yang turut memberikan jutaan orang Indonesia akses ke internet untuk pertama kalinya.

Kemudian, pada 2011 Toto Sugiri bersama 6 pendiri lainnya mendirikan DCI Indonesia. Berdasarkan amatan Forbes, DCI saat ini menjadi perusahaan pusat data terbesar di Indonesia, menyediakan lebih dari setengah kapasitas lokal di Tanah Air.

Dari empat vendor perusahaan cloud yang beroperasi di Indonesia, Alibaba, Amazon Web Services, Google Cloud, dan Microsoft–DCI mengatakan tiga di antaranya adalah klien perusahaan, termasuk juga beberapa perusahaan e-commerce terbesar di Asia Tenggara.

Saat ini, DCI juga memiliki klien lebih dari 40 perusahaan telekomunikasi dan lebih dari 120 penyedia layanan keuangan di seluruh Indonesia, Asia Tenggara dan Amerika Serikat (AS).

Kedepannya, persaingan bisnis data center (pusat data) yang dibekingi konglomerasi raksasa akan semakin ramai. Ingin mereplika kesuksesan DCII dan EDGE, sejumlah emiten Tanah Air lain ikut ‘menceburkan’ diri ke bisnis yang prospektif ini.

Selain DCII dan EDGE, ada emiten telekomunikasi pelat merah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan Grup Lippo, yang masuk lewat PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), anak usaha PT Multipolar Tbk (MLPL). Selanjutnya Grup Sinarmas ikut masuk ke ‘gelanggang’, melalui emiten propertinya, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE).