korannews.com – Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pada awal perdagangan Senin (12/9/2022) hari ini dibuka menguat. Penguatan indeks saham acuan BEI ini mengekor indeks-indeks bursa regional Asia lain.

Melansir data RTI, pada sesi perdagangan hari ini IHSG dibuka naik pada level 7.257,86 dari penutupan Jumat (9/9/2022) lalu pada level 7.242,66. Penguatan tersebut kemudian tergerus, di mana pada pukul 09.25 WIB indeks saham nasional menguat 14,73 poin atau 0,2 persen ke 7.257,39.

Sebanyak 283 saham melaju di zona hijau dan 164 saham merah. Sedangkan 199 saham lainnya stagnan. Adapun nilai transaksi mencapai Rp 2,37 triliun dengan volume 6,19 miliar saham.

Sebagian besar indeks sektoral menguat tipis, di mana sektor teknologi menjadi yang tertinggi pagi hari ini penguatannya, yakni sebesar 0,99 persen. Di sisi lain, sektor material dasar menjadi satu-satunya yang terkoreksi, yakni sebesar 0,4 persen.

Adapun bursa regional kompak bergerak di zona hijau, di mana Nikkei menguat 1,11 persen ke 28.529,14 dan Strait Times menguat 0,31 persen ke 3.273,16.

Sebelumnya, CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya memproyeksi, pada sesi perdagangan hari ini IHSG akan menguat. Tingginya minat investor asing terhadap pasar saham nasional akan menjadi katalis pergerakan IHSG.

Mengacu kepada data Bank Indonesia (BI) pada pekan lalu terdapat aliran modal asing masuk ke pasar saham sebesar Rp 3,74 triliun. Dengan demikian, sejak awal tahun hingga 8 September kemarin total beli neto di pasar saham mencapai Rp 69,4 triliun.

“Ini menunjukan bahwa minat investasi ke dalam pasar modal Indonesia masih cukup besar. Ditambah dengan laporan kinerja emiten yang telah terlansir kembali menunjukkan perbaikan,” tutur William.

Rupiah menguat

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot pada awal perdagangan Senin (12/9/2022) juga dibuka menguat. Hal ini seiring dengan masih tertekannya indeks dollar AS terhadap sejumlah mata uang asing.

Mengacu kepada data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dibuka pada level Rp 14.823 per dollar AS, menguat dibanding level penutupan sebelumnya sebesar Rp 14.830 per dollar AS.

Penguatan terus berlanjut dalam 15 menit pertama perdagangan, di mana sampai dengan pukul 09.15 WIB nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berada pada posisi Rp 14.816 dollar AS, naik 14 poin atau 0,09 persen.

Analis PT Sinarmas Futures Ariston Tjendra mengatakan, indeks dollar AS terlihat mengalami tekanan karena penguatan nilai tukar lainnya, terutama euro. Kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Eropa menjadi penyebab utamanya.

“Kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Eropa 75 basis poin pekan lalu menjadi penyebabnya,” ujarnya, kepada Kompas.com, Senin.

Namun demikian, di sisi lain sentimen bank sentral The Federal Reserve (The Fed) masih menjaga pelemahan dollar AS tidak terlalu dalam. Pasar disebut masih berekspektasi The Fed kembali menaikan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin pada peretemuan September mendatang.

“Besok malam AS akan merilis data inflasi konsumennya. Dollar AS bisa melemah lagi bila terlihat penurunan inflasi,” kata Ariston.

Asal tahu saja, sejumlah mata uang Asia lainnya juga terpantau menguat terhadap dollar AS, mulai dari dollar Singapura (0,09 persen), dollar Taiwan (0,17 persen), rupee India (0,17 persen), hingga yuan China (0,45 persen).

“Nilai tukar rupiah masih berpotensi menguat hari ini ke arah 14.800, dengan resisten di kisaran 14.850,” ucap Ariston.

Disclaimer: Artikel ini bukan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Segala rekomendasi dan analisa saham berasal dari analis dari sekuritas yang bersangkutan, dan Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan Investor. Pelajari dengan teliti sebelum membeli/menjual saham.