korannews.com – Menyebut sebuah brand tentu kita akan terpikir siapa di belakang brand tersebut. Boleh jadi bila menyebut perusahaan pengembang PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) banyak yang tidak mengenal perusahaan ini tapi bila menyebut portofolio maupun rekam jejaknya dipastikan kita akan mengenal berbagai proyek maupun produknya.

Mengutip www.theparadise-group.com, INPP merupakan perusahaan pengembang dengan rekam jejak yang sangat panjang dengan portofolio tersebar di berbagai kota. Di Bali misalnya, Sheraton Bali Kuta Resort, Maison Aurelia Sanur, dan Harris Hotel Kuta Tuban merupakan hasil pengembangan INPP. Di Batam ada Harris Hotel Batam Center, Harris Resort Waterfront, di Jakarta Harris Suites fX Sudirman, Harris Hotel Tebet, Grand Hyatt Jakarta, hingga Pop! Hotel Sangaji di Yogyakarta.

Untuk proyek ritel INPP juga telah menghasilkan banyak spot ikonik seperti fX Sudirman, beachwalk Shopping Center Bali, Park 23 Creative Hub, dan 23 Paskal Shopping Center. Untuk lini komersial INPP tengah mengembangkan One Residence Batam, Apartemen 31 Sudirman Suites, dan Antasari Place Jakarta.

Uniknya, INPP juga seperti spesialis menggarap proyek yang sebelumnya terkendala dan setelah diambil alih perusahaan ini bisa dikembangkan dengan baik. Hingga saat ini INPP telah menggarap 25 proyek dan Antasari Place menjadi proyek ketujuh yang merupakan hasil akuisisi dari manajemen lama seperti juga fX Sudirman, 23 Paskal, Harris Resort Waterfront, dan lainnya yang juga hasil akusisi.

“Ibaratnya, INPP itu ibu yang melahirkan tapi yang menyandang nama bapaknya. Jadi kami sebagai pengembang memang kurang dikenal tapi masyarakat pasti mengetahui produk-produk yang kami hasilkan. Sejauh ini kami berhasil mengembangkan banyak proyek termasuk tujuh proyek hasil akuisisi dengan 0 persen yang gagal,” ujar Anthony Prabowo Susilo, Presiden Direktur & CEO INPP.

Terkait kesuksesan mengembangkan proyek hasil akusisi ini juga tidak terlepas dari komposisi pengembangan INPP yang 80 persennya dari pengembangan untuk sektor perhotelan dan ritel sehingga pendapatan berulang (recurring income) yang mendominasi dibandingkan development income atau pendapatan dari menjual unit. Struktur permodalan yang kuat dari recurring income ini yang ikut menunjang kelancaran pengembangan proyek-proyek yang diakuisisinya.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Direktur Utama Antasari Place A.H. Bimo Suryono menambahkan, untuk pengembangan proyek Antasari Place juga tidak ada sama sekali perjanjian yang diubah terhadap konsumen. Keseluruhan proyek tetap akan dibangun sesuai IMB yang sudah keluar dan kalaupun ada perubahan sifatnya justru upgrade untuk penambahan fasilitas, ruang terbuka hijau yang lebih luas, hingga tenant mix yang lebih beragam untuk area ritel.

“Sekarang progres itu sudah bisa dilihat di site yang sudah ada tiga crane bekerja dengan proses yang sangat cepat. Kami sedang mengerjakan bagian podium dan beberapa lantai di atasnya, targetnya akhir tahun 2024 unit di tower pertama ini sudah bisa diserahterimakan sambil kami mempersiapkan tower kedua. Konsumen juga bisa melihat Virtual Tour 360 VR secara online di www.antasariplace.com atau kontak WA 08119119888,” katanya.

INPP juga telah menunjuk rekanan dan konsultan untuk menggarap proyek ini seperti PTI Architect untuk arsitektur yang elegan. Guna menjamin kekokohan bangunan dan struktur telah ditunjuk PT Gistama Intisemesta, PT Citrapesona Hijau untuk menggarap lansekap, hingga konsultan fasad Paul Adam Façade untuk menghadirkan gedung yang nyaman dan aman terhadap cuaca.

Antasari Place mencakup dua tower yang terdiri dari 980 unit dan 621 unit yang dikonsep untuk menjadi mixed use lifestyle di kawasan premium Jakarta Selatan yang masih menawarkan hunian seharga Rp1 miliaran. Konsep, lokasi, hingga berbagai sarana yang disediakan ini untuk menyasar kalangan profesional muda di salah satu kawasan bisnis dan dekat dengan kawasan hunian kelas atas seperti Kemang dan Pondok Indah.